Blog Tentang Pendidikan, Artikel Pendidikan, Pendidikan Nasional, Info Pendidikan, Metode Pembelajaran, Model Pembelajaran, Materi Pelajaran, Mata Pelajaran, Contoh Proposal, Contoh Skripsi

Tuesday, June 7, 2016

Teori Pembentukan Pribadi Kreatif

Teori Pembentukan Pribadi Kreatif
Beberapa hari yang lalu pada postingan sebelumnya yaitu tentang Kreativitas saya belum sempat membahas tentang Teori Pembentukan Pribadi Kreatif dikarenakan kesibukan dan memang sebenarnya lebih baik ketika dibahas terpisah agar lebih terarah dalam penjelasannya dan pemahaman tentang Teori Pembentukan Pribadi Kreatif bisa lebih mendalam. Baiklah, untuk mempersingkat waktu dan agar para penimba ILMU dapat mempelajarinya lebih seksama, maka saya tidak akan berlama-lama...hehehehe


Pembentukan Pribadi Kreatif


Teori Pembentukan Pribadi Kreatif
Banyak sekali teori yang berusaha menjelaskan pembentukan kepribadian kreatif. Yang akan dibahas di sini ialah pembagian secara umum, bukan berdasarkan mazhab tertentu untuk digunakan sebagai landasan perencanaan program pendidikan anak berbakat. Melihat Kreativitas sebagai hasil dari mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai pada masa anak, remaja, dan dewasa. Pribadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai pengalaman imagis dan traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari ataupun tidak disadari, sehingga menghasilkan solusi pemecahan yang inovatif. Oleh karena itu, Teori Pembentukan Pribadi Kreatif dianggap perlu demi mewujudkan cita-cita bangsa sebagai generasi penerus yang solutif dan inovatif. Berikut ini ada beberapa teori yang sempat saya bagikan pada kesempatan ini:

Kreativitas sebagai Kontrol Regresi

Teori ini dipelopori oleh Sigmund Freud, Carl Jung, Ernest Kris, dan Lawrence Kubie (1920-1950) yang mengaitkan kreativitas dengan Teori Psikoanalitik. Psikoanalitik memandang kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai sejak di masa anak-anak. Pribadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai pengalaman traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma. 

Kreativitas sebagai Karakteristik Pribadi

Teori kreativitas sebagai karakteristik pribadi diawali oleh Rogers (1959) yang menganggap manusia mempunyai potensi kreatif sejak lahir, namun perkembangan selanjutnya tergantung dari eksistensi dan kondisi yang menunjang (Rogers dalam Mia Damiyanti). Teori ini percaya bahwa kreativitas dapat berkembang baik apabila orang tersebut mampu mengekspresikan ide dan rangsang tanpa rasa takut, terbuka pada sesuatu yang tidak diketahui dan mudah menerima ketidaknyamanan (self-accepting).

Kreativitas sebagai Produk Mental

Teori Kreativitas sebagai produk mental diawali sejak studi modern mengenai intelegensi diperkenalkan oleh Sir Fancis Galton (1822-1911) dan Alfred Binet (1857-1911) yang akhirnya memunculkan tes intelegensi. Selanjutnnya melalui pendekatan psikomotorik J.P. Guilford dan Paul Torrance (1950) menghasilkan ”Struktur of intellect model.” Guilford mengidentifikasikan tiga dimensi utama yang meliputi operations (aktivitas ketika pemroses informasi, baik secara konvergen dan divergen); content (bentuk informasi yang diproses); dan product (kemampuan yang dihasilkan). Menurut teori ini, produk konvergen merupakan penyesuaian dengan informasi yang telah dimiliki dalam memori agar menjadi logis dan dapat diterima (merupakan penyempitan jawaban). Sementara itu produk divergen dianggap sebagai produk yang diperoleh atas dasar pengembangan informasi yang sudah ada dalam memori.

Kreativitas sebagai Proses Mental

Kreativitas diperoleh bukan tanpa sadar ataupun secara kebetulan. Menurut Crowll dkk., “walaupun nampak tidak sengaja, namun prestasi yang dialami seseorang hanya mungkin terjadi bila perasaannya (mind) terlatih dan mampu menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian lain yang tidak berhubungan.” Gardner beranggapan bahwa perlu waktu puluhan tahun bagi seseorang yang menguasai ranah tertentu dan menghasilkan pekerjaan kreatif dibidangnya.

Teori Fungsi Hemisphere sebagai Kekhususan Belahan Otak

Secara umum para ahli menyimpulkan bahwa otak kita memiliki dua sisi/kortikel (cortices) yang berhubungan secara mengagumkan melalui jaringan serabut syaraf (Corpus callosum). Fungsi otak belahan kiri adalah berkaitan dengan pekerjaanpekerjaan yang bersifat alamiah, kritis, logis, linier, teratur, sitematis, terorganisir, beraturan, dan sejenisnya. Adapun fungsi otak belahan kanan adalah berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat nonlinier, nonverbal, holistic, humanistic, kreatif, mencipta, mendesain, bahkan mistik, dan sejenisnya. Singkatnya, otak belahan kiri mengarah kepada cara berpikir konvergen (convergent thinking), sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara berpikir menyebar (divergent thinking). Kemunculan kreativitas dipengaruhi oleh koordinasi kedua hemisphere. Kekhususan kerja yang terjadi bukan disebabkan jenis perintah yang berbeda, namun disebabkan karena cara memproses yang berbeda. Justifikasi fungsi kerjanya juga tidak bersifat mutlak. Dengan demikian apabila intuisi merupakan hasil kerja belahan otak kanan, maka proses menganalisis pemahaman dilakukan oleh belahan otak kiri.

Penemuan dan kemajuan teknologi dilakukan oleh orang-orang kreatif. Pribadi kreatif dapat terbentuk melalui diri sendiri dan lingkungan. Pribadi kreatif setidaknya memiliki karakteristik dan puncak dari kreativitas yang didapat di dalam diri pribadi kreatif apabila berakhlak mulia. Hanya manusia kreatif yang akan membawa kehidupan sosial yang sehat dan sejahtera dalam suatu perubahan masyarakat yang fluktuatif. Demikianlah artikel ini, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Semoga bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung. Salam Daeng!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Teori Pembentukan Pribadi Kreatif

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan memberi komentar, saran dan kritik berkaitan dengan topik yang dibahas. Terima Kasih Atas Kunjungannya!