Blog Tentang Pendidikan, Artikel Pendidikan, Pendidikan Nasional, Info Pendidikan, Metode Pembelajaran, Model Pembelajaran, Materi Pelajaran, Mata Pelajaran, Contoh Proposal, Contoh Skripsi

Tuesday, May 31, 2016

Suka Duka Seorang Guru (Salah Siapa?)

Suka Duka Seorang Guru (Salah Siapa?) - "Pulang cepat dimarahi, Datang cepat yak dihargai, Hidup kaya dicurigai, Jam tak cukup sertifikasi dikebiri, Kalau miskin salah sendiri, Potongan bank dan koperasi menanti, Naik gaji cuma sensasi, Murid dicubit berurusan dengan pollisi, Rambut gondrong murid dicukur rambut guru juga harus dicukur, Meski sudah reformasi masih saja jadi Si Oemar Bakri, Uji kompetensi dieksploitasi, Punya isteri lebih dari satu dicemburui, Mau bunuh diri tapi takut mati, Mau naik pangkat harus bayar komisi, Kalau sudah begini mendingan pensiun dini"

Suka Duka Seorang Guru

Berbeda dari sebelumnya, postingan kali ini akan mengulas serangkaian kata di atas yang berisi curhatan suka duka guru dari beberapa rekan Guru yang saya pernah dapati baik di kehidupan nyata atau pun di media sosial yang akhirnya saya mencoba untuk menulis artikel ini dengan harapan dapat ditinjak lanjuti oleh pemerintah ke depannya. Jiahh, sok bijak...heheheh

Jadi, untuk melengkapi tulisan ini dan bagaimana
suka duka guru bisa jadi artikel, maka ada baiknya jika kita tahu dulu apa perbedaan dari tenaga pendidik (Guru) jaman dulu dan tenaga pendidik jaman sekarang. Hal ini diperlukan agar menjadi pembanding antara peta kasus yang dialami guru jaman dulu dan guru jaman sekarang. Mengapa sampai curhatan seperti di atas bisa diekspos sedemikian rupa.

Tenaga Pendidik Jaman Dulu


Pada jaman ini seseorang memilih menjadi guru lebih terdorong oleh hasrat dalam diri untuk membaktikan diri. Ia memahami konsekuensi menjadi guru adalah melayani, dan sudah sadar bahwa ia tidak akan kaya seperti seorang pengusaha. Di era 1980-n seorang guru yang mempunyai kemampuan lebih bisa memberikan les privat di luar jam sekolah, itu adalah pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru. Ada juga yang membuka warung kecil-kecilan untuk menambah lauk di rumah. Belum lagi di daerah terpencil, tenaga mereka dihargai dengan hasil lading orang tua murid. Maka di jaman itu kita sering mendengar istilah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”

Guru pada jaman itu merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping pengetahuan baca tulis dan berhitung. Guru juga punya hak otoriter sebagai pengganti orang tua bila anak berada di sekolah. Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru murid lebih erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi sosial masyarakat jaman dulu yang lebih bersifat kekeluargaan.


Tenaga Pendidik Jaman Sekarang

Perekrutan tenaga pendidik sekarang lebih mengutamakan nilai kelulusan dan sertifikasi yang dimiliki guru tersebut. Apakah guru tersebut sudah pasti kompeten mengajar dengan kelulusan yang bernilai tinggi dan banyaknya sertifikat yang dimiliki? Belum tentu. (Maaf, tidak ada sedikit pun maksud saya untuk menyamaratakan dedikasi dan potensi semua guru). Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekolah-sekolah yang ingin merekrut guru di samping pengalaman minimal 1 atau 2 tahun juga meminta bukti berupa sertifikat yang dimiliki guru tersebut sebagai bukti bahwa ia mempunyai ‘skill’ lebih. Tuntutan ekonomi membuat dedikasi mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang. Bisa dimaklumi karena media apapun sekarang berlomba menawarkan barang konsumsi. Guru juga seorang manusia, ia punya keluarga yang harus dihidupi. Di jaman sekarang tuntutan ekonomi seakan tidak pernah habis, malah selalu naik setiap tahunnya.

Cara mendidik guru sekarang juga sangat jarang menggunakan pendekatan pribadi lagi. Wibawa seorang guru tidak lagi dianggap sebagai pihak otoriter yang mesti disegani, dipanuti. Murid menganggap guru mengajar hanya menjalankan kewajiban, interaksi guru-siswa terbatas pada jam sekolah. Masyarakat sekarang yang lebih mengarah ke individualis, terutama di kota-kota besar, membuat interaksi personal semakin berkurang. (Sekali lagi maaf…ini kecenderungan yang terlihat menonjol di masyarakat kita). Apakah hal ini merupakan efek domino dari tuntutan jaman atau sistem pemerintahan kita dalam menyusun kurikulum?

Berdasarkan hal yang telah di atas, maka dapatlah kiranya kita mengambil kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada guru bisa disebabkan oleh tiga hal yakni:

1. Penghormatan atau penghargaan yang kurang dari masa ke masa
2. Tuntutan sosial ekonomi yang makin mencekik leher sampai ke ubun-ubun
3. Pendidikan keluarga dan moral yang sudah merosot pada siswa ayau orang tua siswa (Mungkin gejala yang ditimbulkan oleh hilangnya mata pelajaran PMP ya ?)
4. Kurikulum pendidikan yang hampir tiap tahun berubah dan menjelma menjadi sosok pendidikan baru lagi.

(Baca Juga: Peran dan tugas guru dalam pendidikan)

Suka duka guru pun tak hanya sampai disitu, tapi ada problematika lain yang dihadapi seorang guru seperti Orang tua siswa yang seolah-olah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka kepada Guru-guru di sekolah, tetapi disisi lain ketika ada masalah, anaknya barulah Orang tua tidak mau Guru mengambil tindakan. Orang tua turun tangan ketika sudah ada masalah itupun bukan untuk menegakkan disiplin dan hukuman sesuai aturan tetapi justru untuk menginterversi disiplin dan hukum, mengupayakan hak istimewa bagi anak mereka. Akibatnya, sama sekali tidak ada pembelajaran pada diri siswa, tak pernah bisa belajar dari kesalahan atau pun mengakui kesalahan. Akibatnya Guru Ku yang malang tidak akan berani memberi hukuman pada siswa dan tentu yang terjadi adalah PEMBIARAN.

Nah, kalau sudah begitu siapa yang bertangggung jawab (tanya Budi saja), Jangan sampai kita hanya bisa menyalahkan Guru saja, dimana hanya mereka yang berinteraksi langsung dengan para murid. Kalau saya boleh menjawab pertanyaan Si Budi itu, maka dengan lantang saya katakan Tidak Benar jika hanya Guru yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan, apalagi sampai hanya mereka yang menanggung akibatnya. Tugas mendidik merupakan tugas orang tua, guru, akademisi, pemerintah dan masyarakat. Jadi mari bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik tanpa harus menyalahkan satu sama lain. Jika ada sanggahan dan saran, silahkan berkomentar pada kotak yang telah disediakan di bawah postingan. Terima Kasih telah berkunjung. Salam Edukasiku!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Suka Duka Seorang Guru (Salah Siapa?)

1 komentar:

  1. ini kekinian sekali, hahaha..baru nyadar sy. Inspiratif dan menggugah kunjungi jg anakkulling.blogspot.com gan,
    Terima Kasih

    ReplyDelete

Silahkan memberi komentar, saran dan kritik berkaitan dengan topik yang dibahas. Terima Kasih Atas Kunjungannya!